Thursday, 27 February 2014

PENGANTAR: PENELITIAN ILMIAH

Oleh Jajang Suryana


Penelitian Ilmiah
Ada empat cara, menurut Charles Pierce, untuk mengetahui dan menjelaskan gejala alam.
1) Method of Tenacity (metode keteguhan): kebenaran yang disandarkan kepada suatu pendapat karena pendapat tersebut telah diyakini masyarakat sejak lama. 2) Method of Authority (metode otoritas): kebenaran pernyataan dibuktikan dengan menunjuk kepada pernyataan orang yang dianggap ahli. 3) Method of Intuition (metode intuisi): keyakinan yang didasarkan kepada anggapan umum. 4) Scientific Method (metode ilmiah): kebenaran empiris yang bisa diuji ulang secara ilmiah (dalam Rakhmat, 1989: 1-13)

Kebenaran ilmu sifatnya sementara. Suatu teori bisa diperbaharui dengan teori lain yang melengkapi atau bahkan menolak isi teori lama. Pada kenyataanya, kebenaran ilmiah bukanlah kebanaran mutlak. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam kaitna dengan semua upaya olah pikir manusia. Semua kebenaran dalam dunia ilmu bisa dipertentangkan berdasarkan per

Kaidah ilmu ditegakkan oleh orde (tatanan yang tertaur), determinisme (sebab, pendahulu), parsimoni (kesederhanaan dalam penjelasan dan mencakup lebih banyak fenomena), dan empirisme (menunjukkan keparcayaan pada observasi dan eksperimen). Oleh karena itu, penemuan ilmiah, teori ilmiah, bisa ditelusuri dan dikaji ulang dengan jalan yang sama oleh ilmuwan yang berbeda (Rakhmat, ibid.).

Ketika Charles Darwin membangun teori tentang The Universe, yang kemudian begitu banyak orang di dunia ilmu pengetahuan, lebih khusus bidang kajian biologi, percaya betul cerita tentang evolusi bentuk tubuh manusia yang berasal dari sejenis binatang primata. Salah satu simpulan hasil kajian Darwin yang diterima mentah-mentah oleh banyak ilmuwan waktu itu, adalah bahwa manusia-manusia masa kini merupakan hasil malih rupa dari wujud monyet, secara evolutif, menjadi manusia sesungguhnya. Waktu itu, tidak ada yang penasaran, apakah proses evolusi itu berhenti pada bentuk manusia masa kini? Darwin tidak mampu menunjukkan bukti tesisnya. Dia berlindung dalam dinding kokoh yang dia bangun, yang disebut the missing link. Hingga kini, link (mata rantai) yang missing (hilang) itu tidak pernah ditemukan, karena memang tidak pernah ada, tidak pernah menjadi bukti kebenaran teori Darwin.  

Tahun 2000, setelah begitu lama teori evolusi itu menjadi pegangan para ilmuwan, Harun Yahya menulis buku yang begitu gamblang, menunjukkan bukti-bukti kesalahan teori Charles Darwin. Yahya menunjukkan bukti-bukti ilmiah yang menentang teori Darwin. Kesalahan teori Darwin ditunjukkan dengan berbagai bukti nyata yang ada di alam, sebagai bukti tak terbantah. Sehingga ketersesatan “ilmiah” para ilmuwan pendukung teori Darwin telah terbantah mentah-mentah. Bahkan, Harun Yahya membongkar “manipulasi ilmiah di belakang Teori Evolusi Darwin dan Motif-motif Ideologisnya”

Jenis-Jenis Kegiatan Penelitian
Pada kenyataannya, kegiatan penelitian ditujukan untuk meramalkan sesuatu atau memerikan keadaan sesuatu. Penelitian yang ditujukan untuk meramalkan sesuatu biasanya menggunakan metode korelasi, eksperimen, dan kuasi-eksperimen. Data yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian tersebut adalah data numerik. Oleh karena itu penelitian jenis ini disebut penelitian kuantitatif. Penelitian yang ditujukan untuk memerikan, mendeskripsikan tentang sesuatu, keadaan, atau kejadian, penelitian ini biasanya cenderung mengolah data yang analisisnya kualitatif.

Penelitian-penelitian kesenirupaan, misalnya tentang estetika, kaji fungsi, analisis bahan, lebih cocok menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dibanding penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif bisa juga digunakan dalam penelitian kesenirupaan, asal jenis data yang akan dikumpulkan dan diolah adalah data yang numerik.

Sumber Rujukan
Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remadja Karya
Sudjana, Nana. 1988. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi. 
       Bandung: Sinar Baru 
Yahya, Harun. 2000. Keruntuhan Teori Evolusi. Alihbahasa oleh Catur Sriherwanto, Intan Taufik,                  Teguh Cahyono, dan Dadang W. Tisna dari The Evolution Deceit. Bandung: Dzikra