Oleh Jajang Suryana
Penelitian Ilmiah
Ada empat cara,
menurut Charles Pierce, untuk mengetahui dan menjelaskan gejala alam.
1) Method of
Tenacity (metode keteguhan): kebenaran yang disandarkan kepada suatu
pendapat karena pendapat tersebut telah diyakini masyarakat sejak lama. 2) Method
of Authority (metode otoritas): kebenaran pernyataan dibuktikan dengan
menunjuk kepada pernyataan orang yang dianggap ahli. 3) Method of Intuition
(metode intuisi): keyakinan yang didasarkan kepada anggapan umum. 4) Scientific
Method (metode ilmiah): kebenaran empiris yang bisa diuji ulang secara
ilmiah (dalam Rakhmat, 1989: 1-13)
Kebenaran ilmu
sifatnya sementara. Suatu teori bisa diperbaharui dengan teori lain yang melengkapi
atau bahkan menolak isi teori lama. Pada kenyataanya, kebenaran ilmiah bukanlah
kebanaran mutlak. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam kaitna dengan semua
upaya olah pikir manusia. Semua kebenaran dalam dunia ilmu bisa dipertentangkan
berdasarkan per
Kaidah ilmu
ditegakkan oleh orde (tatanan yang tertaur), determinisme (sebab,
pendahulu), parsimoni (kesederhanaan dalam penjelasan dan mencakup lebih
banyak fenomena), dan empirisme (menunjukkan keparcayaan pada observasi
dan eksperimen). Oleh karena itu, penemuan ilmiah, teori ilmiah, bisa
ditelusuri dan dikaji ulang dengan jalan yang sama oleh ilmuwan yang berbeda
(Rakhmat, ibid.).
Ketika Charles
Darwin membangun teori tentang The Universe, yang kemudian begitu banyak
orang di dunia ilmu pengetahuan, lebih khusus bidang kajian biologi, percaya
betul cerita tentang evolusi bentuk tubuh manusia yang berasal dari sejenis
binatang primata. Salah satu simpulan hasil kajian Darwin yang diterima
mentah-mentah oleh banyak ilmuwan waktu itu, adalah bahwa manusia-manusia masa
kini merupakan hasil malih rupa dari wujud monyet, secara evolutif, menjadi
manusia sesungguhnya. Waktu itu, tidak ada yang penasaran, apakah proses
evolusi itu berhenti pada bentuk manusia masa kini? Darwin tidak mampu
menunjukkan bukti tesisnya. Dia berlindung dalam dinding kokoh yang dia bangun,
yang disebut the missing link. Hingga kini, link (mata rantai)
yang missing (hilang) itu tidak pernah ditemukan, karena memang tidak
pernah ada, tidak pernah menjadi bukti kebenaran teori Darwin.
Tahun 2000,
setelah begitu lama teori evolusi itu menjadi pegangan para ilmuwan, Harun
Yahya menulis buku yang begitu gamblang, menunjukkan bukti-bukti kesalahan
teori Charles Darwin. Yahya menunjukkan bukti-bukti ilmiah yang menentang teori
Darwin. Kesalahan teori Darwin ditunjukkan dengan berbagai bukti nyata yang ada
di alam, sebagai bukti tak terbantah. Sehingga ketersesatan “ilmiah” para
ilmuwan pendukung teori Darwin telah terbantah mentah-mentah. Bahkan, Harun
Yahya membongkar “manipulasi ilmiah di belakang Teori Evolusi Darwin dan
Motif-motif Ideologisnya”
Jenis-Jenis
Kegiatan Penelitian
Pada
kenyataannya, kegiatan penelitian ditujukan untuk meramalkan sesuatu
atau memerikan keadaan sesuatu. Penelitian yang ditujukan untuk
meramalkan sesuatu biasanya menggunakan metode korelasi, eksperimen, dan
kuasi-eksperimen. Data yang dikumpulkan dalam kegiatan penelitian tersebut
adalah data numerik. Oleh karena itu penelitian jenis ini disebut penelitian
kuantitatif. Penelitian yang ditujukan untuk memerikan, mendeskripsikan tentang
sesuatu, keadaan, atau kejadian, penelitian ini biasanya cenderung mengolah
data yang analisisnya kualitatif.
Penelitian-penelitian
kesenirupaan, misalnya tentang estetika, kaji fungsi, analisis bahan, lebih
cocok menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dibanding penelitian
kuantitatif. Penelitian kuantitatif bisa juga digunakan dalam penelitian
kesenirupaan, asal jenis data yang akan dikumpulkan dan diolah adalah data yang
numerik.
Sumber Rujukan
Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Metode
Penelitian Komunikasi. Bandung: Remadja Karya
Sudjana, Nana. 1988. Tuntunan
Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi.
Bandung: Sinar Baru
Yahya, Harun. 2000. Keruntuhan Teori Evolusi. Alihbahasa oleh Catur Sriherwanto, Intan Taufik, Teguh Cahyono, dan Dadang W. Tisna dari The Evolution Deceit. Bandung: Dzikra
No comments:
Post a Comment